ini adalah official sites Agnes Davonar sebuah blog untuk anda.. Cinta untuk semua sahabat dan dunia sebuah blog yang berisi tentang dunia di sekitar kita. dunia olahraga, hiburan, cerita cinta dan tips serta politik.. semua untuk anda..
Namanya juga masih muda. Suka mencoba segala hal. Kebetulan ada tante yang sudah lebih dahulu malang melintang di dunia entertainment Indonesia. Wajahnya sering kali terlihat sebagai main talent di iklan yang wira-wiri menganggu saat tontonan utama sedang seru dan juga di beberapa sinetron di layar kaca kita. Maka enak-enak saja kalau mau ikut tante casting dan sekalian numpang populer….
Langkah pertama, tante menyuruhku pergi ke photo studio. ” Photo dulu. Minta yang close up ama seluruh badan ya.” pesan tante. Setelah photo jadi harus isi biodata. Nama, tinggi badan, umur, ukuran baju/sepatu/celana, hobby ama pengalaman. Pengalaman? Hehehe….. ini yang parah. Nggak ada pengalaman casting. Akhirnya aku karang saja seadanya. Mereka nggak mungkin akan cek kok.
Langkah kedua, mulai bergerilya bersama tante. Setiap kali tante ada panggilan casting, aku selalu ikut. Di Production House/ PH saat casting biasanya banyak orang - orang dari agency. Nah, ini kesempatan. Kesempatan untuk memberikan photo kita dan untuk jual tampang. Siapa tahu setiap kali ada casting kita di beri kesempatan untuk casting melalui agency. Tempat casting rata - rata berada di daerah Jakarta Selatan.
Beruntung tante sudah cukup di kenal kalangan agency. Panggilan untuk ikut casting pun mulai mengalir. KKN memanfaatkan popularitas tante. Pertama kali dapat panggilan casting di daerah Kemang. Ampun,… macetnya nggak tahan. Sampai di lokasi casting masih harus antre mendapatkan panggilan untuk di casting. Terlihat beberapa artis yang wajahnya seringkali nongol di layar kaca. Mereka minta perlakuan khusus agar tidak usah ikut mengantri casting. Biasa, alasan klasik : mau pergi ke lokasi syuting. Padahal mungkin mereka juga baru sepi job. Kata orang, itulah mental orang kita. Memanfaatkan apa saja untuk keuntungan diri sendiri. Maunya enaknya saja.
Giliran masuk ke ruang casting tiba. Aku di beri papan kecil berisi biodata kemudian di suruh memperkenalkan diri. Di ambil gambar pose depan, close up, tampak dari samping, kemudian di beri sedikit naskah dialog. Di minta untuk memerankannya. Proses casting nggak sampai 5 menit, antri castingnya bisa berjam - jam!
Hari - hari sibuk casting pun di mulai. Beruntung pekerjaan di kantor flexible. Kadang mengaku mau pergi ketemu client di Kemang - pergi dengan mobil dan sopir kantor - padahal ya pergi casting. Hehehehe…. Lumayan, selama menunggu casting bisa ngobrol sana - sini cari kenalan. Rata -rata yang ikut casting kan pasti cantik dan ganteng. Ada presenter, photo model, model catwalk, artis, dll. Semuanya dengan mimpi yang sama : menjadi terkenal di usia muda. Iseng - iseng berhadiah saja lah.
Suka duka selama ikut casting pasti ada. Artis senior yang sudah terbukti popularitasnya jauh lebih ramah di banding pendatang baru karbitan. Kadang suka sewot sendiri lihat pendatang baru yang wuih,… gayanya minta ampun. Berasa paling cakep, sudah go Internasional sampai Hollywood. Padahal wajahnya cuma numpang lewat aja sebagai figuran. Gosip - gosip kecil pun kadang merebak. Oh, si Anu itu model “bispak” - bisa di pakai. Si XYZ dulu kampungan banget, sejak permak abis di dokter ABC jadinya ya begitu. Kadang yang membuat rada serem, gosip mengenai mistik dan klenik. Tak jarang gosip yang belum beredar untuk umum sudah tahu duluan. Tapi, itulah hidup. Semua maunya instant.
Cukup lama tercebur di dunia casting, akhirnya aku tahu bahwa kadang penghasilan yang kecil tak dapat menopang pengeluaran. Sedikit yang dapat menggapai puncak impian dan mendapatkan kontrak dalam jumlah nominal besar, terlebih mempertahankan kesuksesan yang sudah di dapat. Banyak yang boom kemudian menghilang. Celakanya saat mereka terkenal, terbiasa dengan segala pujian, fasilitas dan kehidupan glamour. Saat semua popularitas menjauh, akhirnya alternatif terakhirlah yang di pakai untuk menopang gaya hidup. Menabrak yang terlarang, segalanya menjadi halal.
Nah, sekarang sampai di bagian tersulit untuk di jawab. Saya sendiri apakah pernah gol dalam casting?
Sempat berharap bisa populer di jalur yang penuh lika - liku ini. Tim sukses untuk memperlancar misi dan visi pun di bentuk. Sempat terlibat pemotretan, tapi prestasi saya hanya nongol di iklan televisi berdurasi 15 detik. Itu saja saya hanya kelihatan sekelebat saja. Bagaimana orang mau mengenal saya dan menjadi terkenal kalau cuma nongol sekelebat? Untung muka masih kelihatan, tidak cuma punggung/ kakinya saja. Saat tante main sinetron, saya pernah ikut dalam beberapa episode. Bintang utamanya AM. Artis dan penyanyi yang konsisten dengan kariernya dari artis cilik hingga dewasa. Sinetron sangat menguras tenaga. Di rumah kita bisa duduk menonton paling 1 jam, proses syuting bisa berhari- hari dari pagi sampai dini hari. Kejar tayang/stripping lebih parah lagi. Melelahkan….
Dunia seperti ini menjanjikan segalanya. Janji popularitas dan kehancuran. Kehidupan pesta yang meriah dibayangi dengan jerat narkoba. Semua di mata masyarakat harus terlihat perfect dalam panggung sandiwara kehidupan ini. Semuanya penuh dengan andai. Andai aku menjadi terkenal seperti A, pasti nasibku tidak begini…. Andai….. Andai….. dan terus berandai - andai sampai tua. Kereta terakhir sudah lewat…..

Bertemu Munif, Bocah yang Dijanjikan Sunat
Ketika menyapa satu per satu sanak saudaranya, Siti Nur Jazilah alias Lisa sempat terkejut. Sebab, beberapa di antaranya sudah beranjak dewasa.
———
Salah satu kerabat yang membuat Lisa terkejut adalah Munif Setiawan. Lelaki yang kini berusia 17 tahun itu dulu sangat dekat dengan Lisa ketika masih bocah. Munif adalah anak Poniti. Poniti adalah salah satu adik Saring, bapak Lisa. Jadi, Munif adalah sepupu Lisa.
Ketika bertemu Munif, Lisa langsung bisa menebak. Tapi, dia sempat terkejut karena Munif tumbuh lebih tinggi. “Yang saya tidak bisa lupa dari dia (Munif), selain tetap kurus, dia itu orangnya pemalu,” kata Lisa tentang Munif.
Munif memang cukup lama tak bertemu Lisa. Lelaki berambut lurus itu kemarin ikut menyambut Lisa. Namun, dia lebih banyak diam. Tidak pernah terlihat dia menghampiri Lisa dan mengajaknya bicara. Lulusan SD itu hanya melihat Lisa dari jarak cukup jauh. ”Sini lho Nif,” kata Lisa, sambil tangan kanannya melambai ke arah Munif. Yang dipanggil hanya tersenyum dari jarak beberapa meter.
Saat masih di Desa Renteng, Turen, Lisa dan Munif memang sangat akrab. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama. Tak jarang Lisa mengajaknya jalan-jalan ke kota.
”Nggak hanya itu. Yang mengantarkan Munif sekolah ya saya,” kata Lisa saat berbincang bersama para anggota keluarga di rumah bapaknya di Dusun Sumberwuni, Desa Codo, Kecamatan Wajak, Malang, kemarin (4/10).
Namun, tutur Lisa, Munif termasuk anak yang tidak rajin ke sekolah. Agar mau berangkat, Lisa sering memaksanya. ”Kalau tidak salah, dulu itu saat dia masih kelas satu SD,” katanya.
Kebanyakan, kata Lisa, Munif menolak pergi ke sekolah. Dia lebih suka bermain dengan anak-anak seusianya. Suatu ketika Lisa meninggalkan desanya untuk bekerja di kota. Kepergian itu jelas menjadi suatu kehilangan bagi Munif. ”Tenang ae. Nanti kalau saya pulang, kamu saya sunatkan,” janji Lisa waktu itu berusaha menghibur Munif.
Namun, Lisa tak pernah kembali. Dia hidup berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Termasuk lari ke Kalimantan untuk menghindar dari suaminya.
Kepergian Lisa juga berakibat pada Munif. Dia semakin malas ke sekolah. Keengganannya berangkat sekolah semakin menjadi. Karena merasa tidak ada yang ngopeni, sekolah Munif pun terbengkalai. Akhirnya Munif tak bisa menyelesaikan sekolahnya. ”SD saya tidak lulus,” kata Munif, lantas terkekeh.
Begitu pula sunatnya. Kepergian Lisa membuat Munif menunggu-nunggu kapan dia bisa disunatkan. Apalagi, bagi anak lelaki di desa, sunat merupakan momen kebahagiaan. Sebab, akan ada banyak hadiah dan uang yang diberikan saat seorang anak disunatkan.
Kata Poniti, Munif benar-benar menunggu janji Lisa. ”Bapake Munif iku sampek nggoleki (sampai mencari) Zila (panggilan Siti Nur Jazilah di kampungya, Red.). Iki nandi jarene ape nyunatno (di mana Lisa, katanya mau menyunatkan Munif),” kata Poniti, ibu Munif.
Namun, Lisa tak pernah datang. Sementara, Munif tumbuh semakin dewasa. Akhirnya dia pun disunatkan oleh bapaknya. ”Mosok yo gak sunat gara-gara Zila gak teko,” kata Poniti. Seisi rumah pun tertawa berbarengan. “Kalau sekarang, mumpung sudah ketemu, apa nggak disunat lagi?” kata Poniti, bermaksud bergurau. Lisa pun terkekeh.
Saya Ingin Jadi Juragan Kue
Sebelum berangkat ke Malang, kemarin (4/10) sekitar pukul 06.15, Siti Nur Jazilah alias Lisa sempat diwawancarai Jawa Pos di lantai 3 Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) RSU dr Soetomo. Dia didampingi dr Hisnindarsyah. Berikut petikannya:
—————
Bagaimana rasanya bisa pulang kampung saat Lebaran?
Wah, apa ya? Saya sih seneng, tapi juga nervous. Ya gimana ya, ini kan kali pertama saya mengunjungi keluarga di rumah setelah bertahun-tahun tidak pulang. Gemetar juga. Apalagi ini pas Lebaran.
Anda sudah menyiapkan apa saja sebelum pulang kampung?
Tidak banyak sih. Ini tadi saya masih mengemasi barang-barang untuk keperluan medis. Ya kayak tisu, kasa. Nanti kalau ada apa-apa biar siap.
Sudah berapa lama tidak merayakan Lebaran di kampung?
Wah, sudah berapa lama ya? Lama sekali. Saya sampai tidak ingat. Emm, paling ya enam sampai tujuh tahun lah saya tidak pulang untuk Lebaran di sana.
Siapa saja yang akan ditemui di sana?
Yang jelas ini nanti saya ke rumah bapak saya (Saring, Red). Tapi, saya tidak ke rumah kakek dan nenek. Mereka nanti dijemput untuk diantar ke rumah bapak. Jadi, kami ketemu di satu tempat saja biar tidak repot. Banyak yang akan ditemui. Intinya, keluarga di desa lah.
Sebelumnya, apakah Anda belum pernah bertemu keluarga dari Malang?
Kalau ketemu sih sering. Kakek dan nenek juga ke sini saat saya operasi. Beberapa saudara juga, paman dan bibi. Banyak kok yang sering menjenguk ke sini. Tapi, kan lain. Soalnya, saya berkunjung ke sana dan banyak orang yang belum saya temui selama saya menjalani perawatan.
Ide rencana Lebaran ke kampung ini dari siapa?
Saya sebenarnya mulai keluar dari ruang perawatan secara bertahap. Saya sering keluar dari lingkungan rumah sakit untuk bersosialisasi. Kadang main ke rumah dokter Hisnin (sambil memandang dr Hisnindarsyah yang berdiri di sampingnya). Kemarin kami malah jalan-jalan ke Ampel, Dok ya. Makan-makan hahaha.
Ide pulang kampung ini datang dari dokter juga, saya juga. Apalagi momennya kan pas Lebaran. Intinya, kami ingin saya bisa bersosialiasi dengan banyak orang.
Ada oleh-oleh yang dibawa untuk keluarga?
Ada. Saya kan suka bikin kue-kue, basah maupun kering. Ini nanti saya bawa kue-kue bikinan saya ke rumah sebagai oleh-oleh. Ada juga titipan bingkisan dari dr Urip (Urip Murtedjo, kepala Instalasi Rawat Darurat RSU dr Soetomo, Red) dan dr David (David Perdana Kusumah, spesialis bedah plastik).
Memang, kue apa saja yang dibawa?
Apa ya? Banyak. Ada kue kaki kambing, kue koko krunch. Pokoknya kue-kue kering.
Belajar membuat kue dari siapa?
Saya kan sering main ke rumah dokter Hisnin. Di sana saya biasanya belajar bikin kue dari Bu Virly (istri dr Hisnindarsyah). Banyak kue yang sudah saya bikin. Beberapa bahkan saya berikan untuk dokter-dokter yang merawat saya. Prof Sjaifuddin (Prof dr M. Sjaifuddin Noer SpBP(K), ketua tim face-off RSU dr Soetomo) itu juga biasanya dapat. Ada juga yang dijual untuk kalangan tertentu, hehehe.
Ada keinginan mencari uang dari menjual kue?
Iya. Mungkin kalau semua sudah selesai, saya akan bekerja dari membuat kue-kue. Siapa tahu bisa jadi juragan kue, hahaha

Seorang gadis India yang berusia 13 tahun dan mengeluarkan darah secara spontan dari pori-pori tubuhnya telah membuat bingung para dokter di negeri itu, demikian laporan media Inggris, Kamis (2/10).
Twinkle Dwivedi, yang kehilangan darah dari kulitnya tanpa terluka atau tergores, harus menjalani transfusi darah setelah banyak darah mengalir dari mata, hidung, tengkuk, dan telapak kakinya.
“Menakutkan dan kacau. Baju sekolah saya jadi berwarna merah. Tak seorang pun mau mendekati saya atau bermain dengan saya,” kata Dwivedi.
“Saya dulu selalu menangis hampir setiap kali itu terjadi. Tetapi sekarang saya hanya dapat berusaha bersikap tenang,” katanya.
Gadis belia tersebut dulu adalah seorang gadis normal, kata laporan media itu, sampai suatu hari pada Juli 2007, ketika secara tiba-tiba darah keluar dari mulutnya.
Seorang dokter mendiagnosisnya sebagai bisul. Namun beberapa pekan kemudian, ia mulai berdarah antara lima dan 20 kali sehari dari pori-pori di bagian bawah rambut, hidung, mata, dan kakinya.
Warga desa di dekat tempat tinggalnya percaya ia pasti telah dikutuk dan pernah mengeluarkan kata-kata kasar di jalan.
Semua dokter yang telah diminta berkonsultasi oleh keluarga Dwivedi tak dapat menemukan obat sementara mereka percaya kondisi gadis remaja tersebut adalah jenis ekstrem gangguan “platelet” darah yang langka.
Para dokter dari All India Institute of Medical Sciences di New Delhi berpendapat ia terserang Gangguan Platelet Jenis 2, kondisi saat darah sangat rendah di dalam partikel darah. Mereka mengatakan darah Dwivedi encer dan memiliki warna merah anggur muda, tapi mereka tak dapat menemukan obat untuk membuat darah itu jadi lebih kental.
Namun, ada harapan setelah seorang konsultan hematologi Inggris mengatakan penyakit itu ada obatnya.
Dr. Drew Provan, dari Barts Hospital di London, mengatakan, gadis berusia 13 tahun tersebut mungkin terserang penyakit Von Willebrand Jenis II, yaitu terjadinya penurunan protein yang disebut faktor Von Willebrand yang penting selama tahap awal pembekuan.
Dwivedi, yang memiliki tiga saudara perempuan, hidup bersama keluarganya di Kota Lucknow, daerah Almbagh, negara bagian Uttra Pradesh, India.

Film Suami-suami Takut Istri; The Movie
Sutradara Sofyan D Surza
Pemain Sarah Azhari, Rahma Azhari, Olla Ramlan, dan Fauzi Baadilah.
Skenario Sofyan D Surza
Genre Komedi
Produksi Multivision Plus
dok.Multivision Plus
Film “Suami-Suami Takut Istri; The Movie” menampilkan “setting outdor” di Jakarta dan Bali.
Genap satu tahun serial komedi “Suami-Suami Takut Istri” (SSTI) di layar kaca. Kesuksesan mengantarkannya
pada kisah layar lebar. Berkompetisi di layar lebar, SSTI menguji formula komedi Warkop DKI.
ekali lagi, grup Warkop DKI dijadikan acuan film-film komedi Indonesia terbaru. Kejayaan trio Warkop DKI di layar lebar memang masih teringat. Mereka selalu mengisi momen Lebaran dekade 80-an. Dan kini, banyak produser yang menjadikan film-film Warkop sebagai standar komedi lokal. Salah satunya adalah Anjasmara yang memproduseri Suami-Suami Takut Istri; The Movie.
“Warung Kopi DKI adalah salah satu komedian legendaris kita. Sulit untuk melepaskan gaya komedi kita dari mereka, karena kita dibesarkan oleh komedi mereka,” ujar Anjasmara.
Namun, menurut aktor Anjasmara, gaya Warkop bisa disesuaikan dengan zaman, sehingga dengan kisah apa pun format yang dipakai akan tetap sama. Menurutnya, hal ini sudah dibuktikan dalam sinetron SSTI.
“Film ini bukan sekadar cerita komedi yang menghibur, melainkan juga ingin memberi pesan bahwa para suami sebaiknya tidak usah bertingkah laku yang aneh-aneh, seperti berbuat genit kepada setiap wanita,” tambah Anjas.
Format SSTI di layar lebar tidak jauh berbeda dengan format di televisi. Karakter dan pemainnya tetap sama dengan tayangan televisi. Seperti Pak RT dan Bu RT, Faisal dan Deswita, Tigor dan Welas, serta Karyo dan Sheila. Tidak ketinggalan, Carla, anak pasangan Karyo dan Sheila, serta Dadang, satpam kompleks setempat.
Sebenarnya di antara karakter itu, muncul karakter lain. Sutradara Sofyan D Surza, menyebutkan karakter ini sebagai penguat cerita. Di antaranya adalah Trio Ganas. Pemunculan Trio Ganas dikaitkan dengan sosok Pretty (Desi Novitasari), salah satu penghuni kompleks yang berstatus janda. Di sinetron, Pre- tty kerap tampil sensual, ternyata dia adalah salah satu anggota Trio Ganas, trio vokal yang anggotanya seksi-seksi. Selain Pretty, anggota yang lain diperankan oleh Rahma Azhari dan Sarah Azhari.
Kisah SSTI di layar lebar berawal ketika Karyo (Irfan Setiadi) mendapat tugas kantor ke Bali. Sheila (Putty Noor) yang menemukan tiket ke Bali di tas Karyo, menyangka suaminya akan memberikan kejutan rekreasi ke Bali. Ia menceritakan hal itu kepada ibu-ibu yang lain, hingga para ibu-ibu memaksa suami-suami mereka untuk jalan-jalan ke Bali.
Meski dengan keterpaksaan, akhirnya jalan-jalan ke Bali itu terlaksana juga, satu hal yang tidak diketahui para ibu adalah alasan suami mereka mau ikut ke Bali. Para suami mau ikut karena Trio Ganas akan menggelar pertunjukan di Bali. Perseteruan para ibu-ibu dengan suami mereka pun berlanjut di sana.
Syuting Sebulan
Dengan anggaran tiga mi- liar rupiah, SSTI The Movie mengambil syuting di Jakarta dan Bali selama satu bulan. Syuting di Jakarta dan Bali ini menjadikan latar yang digunakan berbeda dengan sinetronnya. Jika di sinetron menggunakan studio, maka untuk filmnya mengambil setting out door.
Yang menarik adalah pergantian latar ini. Bagi para penggemar SSTI yang biasa menyaksikannya di televisi, mungkin akan gagap ketika menyaksikan latar di layar lebar. Pos ronda Mang Dadang berubah jadi pos Satpam. Meskipun fungsinya sama, ada warna yang berbeda antara pos ronda dan pos satpam di kisah SSTI.
Latar out door sebenarnya menjadikan kisah SSTI tampak lebih nyata. Hanya saja harus ada penyesuaian pada pengembangan karakter-karakter yang ada. Ini yang mungkin bisa menjadikan SSTI di televisi berbeda dengan SSTI The Movie.
Pemunculan Trio Ganas yang dihebohkan oleh duet bersaudara Rahma dan Sarah Azhari tentunya dapat jadi pemikat film ini.


Penari
Seorang wanita Belanda di era PD-I menjadi penari orientalis dan spion politik untuk pemerintah Jerman dan Perancis. Gadis Belanda itu bernama Margarethe Gertruide Zelle. Dia lahir di Leeuwarden, Belanda. Ketika dia berusia 19 tahun, tepatnya tahun 1895, dia dinikahi oleh Rudolph Macleod,(39 tahun). Rudolph adalah perwira tinggi militer Belanda yang bertugas di Indonesia. Pasangan baru kimpoi ini diboyong ke
Indonesia, pertama kali tinggal di Semarang. Margarethe senang dengan rumah di Semarang yang nyaman. Tak berapa lama lagi, suaminya harus berpindah tugas ke Malang, di daerah Tumpang. Di situ Margarethe suka bermain ke candi Jago, candi
Kidal, candi Singosari. Dia mengagumi tarian Serimpi yang ditarikan di candi-candi tersebut. Kemudian Suaminya dipindah tugaskan ke Sumatra.
Margarethe tidak kerasan tinggal di Sumatra. Dia rindu dengan suasana
di Jawa. Apalagi anak laki-lakinya Norman meninggal di Sumatra. Tahun 1902
pasangan ini kembali ke Belanda. Dan berakhir dengan perpisahan. Rudolph tinggal dengan anak perempuannya. Masih tahun yang sama Margarethe pergi ke Paris, dengan tujuan akan belajar balet yang kemudian timbul niat Margarethe untuk menjadi penari orientalis di sebuah klab malam. Dia mencoba menari sebisanya bergaya tarian Jawa. Apalagi dia dulu sering melihat tari Serimpi di candi Jago, Malang. Pakaianpun dia variasi sendiri. Bahkan Margarethe sebenarnya tidak tahu banyak kesenian Jawa, apalagi agama nenek moyang orang Jawa. Dia nekat saja menari dan berpakaian khas ketimuran.
Tarian dia membuat gebrakan baru. Bukan saja dia pandai menari orientalis di mata orang Paris, namun dia juga menari dengan eksotik dan telanjang. Dalam waktu singkat namanya sudah cepat melambung. Banyak kaum elit Paris dan Eropa lainnya terkesima dengan penampilannya. Ketika banyak media menyorotnya. Dia mengaku kalau lahir di kota Jaffnapatam, pantai Malabar, India. Sedang ayahnya seorang Brahmana dan ibunya seorang penari di candi. Kebohongannya membuat publik makin yakin. Apalagi setelah nama yang sebenarnya sebagai istri Rudolph Mcleod itu diganti dengan nama MATA HARI.
Nama itu kedengarannya sangat asing di telinga orang barat. Khas ketimurannya menonjol. Mata Hari memang cocok dianggap orang timur. Bukan saja rambutnya yang hitam kelam dan kulitnya yang kecoklatan. Tapi bibir dan matanya tampak bukan seperti orang barat. Tariannya sungguh liar dan mengundang decak kagum banyak penonton.
Seorang yang dibuat tergila-gila pertama kali adalah Emile Guimet. Dia pengusaha industri sabun cuci dari kota Lyon, Perancis. Sejak tahun 1885, Guimet telah mendirikan museum yang mengkoleksi barang-barang seni orientalis dan dia juga mempersilakan museumnya untuk pentas dan mengenalkan pada kalangan elit Paris. Honor yang didapat Mata Hari saat itu berupa emas seharga 1000 Franc. Pada tahun 1905 Mata Hari telah melakukan pertunjukan sebanyak 35 kali. Penonton yang terbanyak di Olympia-Theater, dia mendapat bayaran sejumlah 10.000 Francs. Di samping dia pentas di pertunjukan umum, juga melayani pentas privat. Mata Hari bercita-cita punya pacar orang kaya. Dan kini cita-citanya telah tercapai. Tak hanya orang kaya dan bangsawan yang menjadi pacarnya, tapi termasuk para perwira tinggi. Dia hidup dengan kemewahan.
Kemudian Mata Hari berganti pacar lagi, kali ini dengan seorang pengacara
bernama Edouard Clunet. Dia meminta saran Clunet untuk menghubungkan dengan sebuah agen yang profesional untuk mengurus pementasannya. Clunet lalu menghubungkan dengan agen teater terkenal bernama Gabriel Astruc. Pada Januari 1906, pertama kali Mata Hari pentas di luar Perancis yaitu di Madrid. Pada Pebruari 1906 penari yang juga menyandang nama Margarethe itu pergi ke Berlin. Dia tak butuh waktu lama untuk memperkenalkan kebolehannya ke publik. Apalagi ada dukungan dari seorang bangsawan setempat. Kemudian dia pergi lagi ke Wina, karena dia mendapatkan surat dari Astruc untuk pentas di ibu kota kekaisaran Austria-Hongaria. Publik di Wina luar biasa. Media terkecoh dengan pemberitaan asal mula Margarethe. Beberapa media menulis bervariasi, dia berasal dari Belanda, Jawa, Bali dan India. Postur tubuhnya juga diekpos, besar dan langsing. Kemolekannya seperti seekor binatang liar.
Seorang perempuan cantik yang mirip dewi aneh, berkulit gelap mirip gelapnya
malam. Sebuah media mewartakan, kalau Margarethe berusia 30 tahun, tapi
wajahnya seperti gadis muda. Bahkan di bulan Desember di Belanda terbit sebuah buku berjudul:”The Life of Mata Hari, the Biography of my Daughter”. Buku itu ditulis oleh Adam Zelle, ayah Margarethe. Margarethe tidak yakin, kalau itu tulisan ayahnya sendiri. Dia percaya, kalau ada dua penulis mendatangi ayahnya, karena kepopulerannya.
Spion(Double Eye Spy)
Sudah berbulan-bulan telah beredar desas-desus ketegangan internasional di
seluruh Eropa. Perang akan terancam meletus. Pada awal Agustus 1914 diumumkan perang telah meletus. Orang-orang di jalan marah dan beringas. Pertokoan di sepanjang jalan di Paris yang berlabel Jerman atau Austria dibakar. Tak ada lagi “Brasserie Viennoise” dan “Café Klein”. Polisipun kewalahan antara memihak bangsanya atau manusia pada umumnya. Di Berlin reaksinya tak beda dengan di Paris. Bangsa Jerman dan Perancis bersitegang dan dipertanyakan, kenapa Margarethe mondar-mandir di Berlin? Hanya seorang penari, namun banyak punya kenalan luas dan orang-orang penting. Akhir bulan Juli 1914 Margarethe menjalin hubungan dengan seorang komandan polisi bernama Griebel. Margarethe sebagai gundiknya ikut melihat demonstrasi di luar istana kaisar. Semboyan “Deutschland über Alles” mengumandang keras. Dalam beberapa hari saja, Margarethe kena sasaran aksi anti orang asing. Suasana yang mencekam itu juga mengkhawatirkan keselamatan Margarethe. Kini dia sudah berusia 38 tahun. Dia punya akal ke Paris lewat Zürich, Switzerland. Namun pada 7 Agustus dia sudah berada di Berlin lagi. Bukan saja dia tanpa kawan di Berlin, tapi juga tanpa pakaian. Dia beruntung ada orang Belanda tua yang baik hati dan membelikan tiket kereta api untuk keluar dari Berlin menuju Belanda. Pada 14 Agustus dia meninggalkan Berlin dan berhenti di Frankfurt meminta dokumen perjalanan konsul Belanda. Tanggal 16 Agustus dia tiba di Amsterdam. Pada 14 Desember 1914 untuk pertama kalinya Margarethe manggung di publik Belanda. Gedung teater di Den Haag penuh sesak pengunjung. Semua orang ingin melihat penampilan Mata Hari yang sudah tersohor itu. Tak begitu lama Margarethe menemukan pasangan barunya, Baron Edouard van der
Capellen. Baron Edouard tak hanya kaya, tapi juga pimpinan kavaleri. Dia berusia 52 tahun. Dalam tempo sebulan dari perjumpaannya Margarethe dibuatkan sebuah rumah mungil nan indah oleh Baron di Den Haag. Baron menganggap Margarethe bagaikan prostitusi.
Pada 13 Maret 1915 Margarethe membaca koran Belanda yang memuat fotonya dengan judul “Madame Mata Hari”. Dia sedih meratapi masa jayanya yang sudah lewat, sementara di rumah pemberian Baron seperti terkekang. Pada Agustus 1915 Margarethe berulang tahun yang ke 39 tahun. Kehidupan sehari-hari Margarethe terasa sepi, karena Baron sering bertugas berbulan-bulan tak pulang. Margarethe mencoba kabur dan akan kembali ke Paris lagi. Jalan yang dia tempuh harus berkeliling dari Amsterdam menuju pelabuhan Inggris, selat Biskaya ke Vigo,Spanyol utara. kedatangan Margarethe di Paris Desember 1915 menjadi sorotan agen Prancis. Margarethe mengenakan pakaian mahal dan berlagak sombong. Apalagi dia merasa pernah menjadi bintang di Paris.
Pada suatu kesempatan Margarethe mengungkapkan: Suatu malam bulan Mei 1916 di Den Haag aku didatangi seseorang yang bernama Karl Kramer. Kramer memberitahu tentang hubungannya dengan Perancis. Dan dia tanya aku, apakah kiranya aku bisa sedikit berbuat yang bisa membuat senang bangsa Jerman? Margarethe menirukan tawaran Kramer:
“Kalau kamu bisa bantu, aku gembira dan aku sediakan bayaran sebanyak 20.000 Franc.”
Mendengar tawaran uang, Margarethe terpikat. Namun dia butuh beberapa
hari untuk mempertimbangkan. Bagi Margarethe tidaklah teramat sulit, karena dia sudah terbiasa berbuat naif dan menjalani liku-liku dengan berbagai kalangan elit. Margarethe mengajukan usulan, seandainya dirinya bisa berbuat lebih, bisakah ditambah bayarannya? Dan Kramer menyetujui. Akhirnya dia menulis surat jawaban ke Kramer, kalau dirinya sanggup menerima tawaran. Betapa senang Kramer, dia cepat-cepat mendatangi rumah Margarethe sambil membawa uang kontan 20.000 Franc. Kramer juga membawa peralatan tulis rahasia berupa tiga botol tinta. Dua botol diantaranya berupa tinta tanpa warna. Sedang sebuah botol berisi tinta berwarna biru kehijauan. Cairan di botol pertama berfungsi untuk
melembabkan kertas. Cairan botol kedua untuk menulis berita dan cairan di botol ketiga untuk menghapus. Margarethe tampak heran dengan peralatan rahasia itu. Tapi dia mempercayai Kramer. Tak hanya di situ persiapan sebagai agen ata-mata. Namun ada sandi khusus yang harus dipakai Margarethe yaitu sandi nomor: H21. Sandi nomor itu harus ditulis sebagai tanda tangan. Dan semua beritaharus dikirim ke alamat Hotel de l`Europe di Amsterdam.
Lalu Margarethe dikirim ke Paris, untuk mengirim berita-berita yang penting.
Tapi Margarethe tak tahu apa-apa tentang tugas yang akan dilakukan. Memang antara dunia spionase dan seks sangat erat. Orang-orang yang penting posisinya dan intelek sekalipun tetap akan bertekuk lutut di atas ranjang. Di Paris petualangan cinta Margarethe dimulai lagi. Kali ini dengan seorang perwira muda Rusia bernama Vadime de Masloff. Pada suatu malam ulang tahun Margarethe yang ke 40 itu, pemuda Vadime bercinta di kamar Grand Hotel. Vadime usianya 20 tahun lebih muda dari Margarethe. Bahkan Margarethe berujar, selama hidupnya dia hanya bercinta dengan para perwira. Suatu hari sebuah musibah menimpa pada Vadime. Sebuah granat meledak dan melukai wajah serta leher Vadime dan terkena asap gas beracun. Dia harus dirawat di rumah sakit tentara. Margarethe cemas dan bermaksud ingin mengunjungi Vadime di rumah sakit. Namun diperlukan surat khusus dari sebuah kantor kementerian perang di Boulevard St.Germain. Tak tahunya di kantor itu juga dipakai sebagai kantor agen spion Perancis. Di sebuah tangga gedung itu, secara kebetulan Margarethe berpapasan dengan kapten George Ladoux. Hubungan antara Margarethe dan Ladoux makin dekat. Makin diketahui, kalau Ladoux sebenarnya ketua spion Perancis. Margarethe ditawari, untuk bekerja
sebagai spion untuk Perancis. Ladoux menanyakan berapa gaji yang diminta? Bayangan Margarethe melambung tinggi, utamanya mencita-citakan hidup di masa depan dengan pacar terbarunya Vadime. “Satu Juta Franc”, jawab Margarethe. Ladoux mempertimbangkannya, karena gaji sejumlah itu sama dengan gaji untuk 12 spion paling handal. Namun Ladoux mencurigai, kalau Margarethe sebenarnya adalah spion untuk Jerman. Mendengar permintaan gaji yang kurang ditanggapi Ladoux, maka Margarethe mencoba meyakinkan lagi. Kalau dirinya juga kenal orang penting di Jerman bernama Kramer. Telinga Ladoux hampir pecah mendengar nama Kramer. Karena memang dia orang penting Jerman. Dari sini Ladoux makin yakin, kalau Margarethe benar-benar spion Jerman. Dan Margarethe mencoba akan menjadi double agen. Ladoux tidak mau mengambil resiko lebih jauh. Dia tak menyanggupi membayar satu juta Franc.
Pada 13 Pebruari Albert Priole, komandan polisi mengetuk pintu kamar hotel,
tempat Margarethe menginap. Polisi itu membawa surat perintah penahanan dantertulis: “Madame Zelle, Margarethe dengan nama Mata Hari, beragama kristen protestan, lahir di Belanda 7 Agustus 1876, tinggi 1,75, bisa baca tulis telah
dinyatakan terdakwa sebagai spion yang menyebarkan berita ke musuh.”
Margarethe resmi menjadi tahanan di Palais de Justice. dibawah pengawasan
kapten Pierre Bouchardon. Kapten Bouchardon terus mempelajari dokumen yang dikirim dari kantor Ladoux. Margarethe dikeluarkan dari sel untuk dilakukan pemeriksaan. Kesibukan pemeriksaan makin ditingkatkan, kasus per kasus yang telah terlewati dipertanyakan langsung pada Margarethe. Hasil pemeriksaan, sangat diragukan loyalitas Margarethe sebagai spion Perancis. Dia dituduh berbohong dan jelas terbukti sebagai spion Jerman. Margarethe mengelak dan justru mengaku bekerja untuk Ladoux. Buktinya dia sudah mengirim berita penting dari Madrid. Dalam pemeriksaan Ladoux tidak ada di tempat. Margarethe meminta menghadirkan Ladoux. Pada 10 April pihak kepolisian menyerahkan bukti pemeriksaan pada zat-zat kimia yang dipakai Margarethe. Sebuah botol tinta bertuliskan: Beracun, ternyata sebuah tinta tanpa warna itu dari bahan kwalitas terbaik. Ketika temuan polisi itu diutarakan Margarethe oleh Bouchardon. Margarethe mengelak, dia mengaku memesan di Spanyol.
Pada 25 Juli 1917 sebuah sidang tertutup digelar dengan penjagaan ekstra
ketat. Beberapa saksi dan pejabat militer perang hadir. Oleh hakim pengadilan perang, Margarethe disodorkan delapan pertanyaan. Dan Margarethe dinyatakan terbukti bersalah sebagai spion Jerman. Untuk itu pengadilan perang Perancis menjatuhkan hukuman mati pada Margarethe. Pelaksanaan hukuman mati pada Senin, 15 Oktober 1917 di Bois de Vincennes, bagian timur kota Paris. 12 resimen artileri siap dengan senapan di sebuah pagi yang dingin dan berkabut. Sedang usia semua tentara tersebut masih muda, sekitar 20 tahun. Sehari setelah pelaksanaan eksekusi, tepatnya pada Selasa, 16 Oktober 1917, berbagai media internasional memberitakan. “The Time” memberitakan penari Mata Hari telah dihukum tembak. “Daily Express”, juga melangsir berita dengan judul “Spion cantik Mata Hari dihukum mati”. “New York Times” menulis, penari dan
petualang Mata Hari dijatuhi hukuman mati. Dia diambil dari penjara St.Lazare dan dibawa ke Vincennes untuk dihadapkan regu tembak. “Le Figoro” mengabarkan, spion Mata Hari dihukum mati dan mayatnya dikubur di kuburan Vincennes. Dua tahun kemudian Jeanne-Louise, anak perempuan Mata Hari yang sedang menginjak usia 21 tahun meninggal dunia akibat pendarahan di otak.